Anak Petani Dicovidkan, Gagal Jadi Paskibra Di Istana Negara

lensawarna.tv Kisah pilu hadir dari putri seorang petani asal Sulawesi Barat bernama Kristina. Siswi berusia 16 tahun itu harus menelan pil pahit, karena dinyatakan batal menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara.

Tepat satu hari jelang keberangkatan ke Jakarta, Kristina dikabarkan terpapar Covid-19 dan harus digantikan orang lain. Selang tiga hari berikutnya, dia lantas melakukan tes ulang, hasilnya Kristina ternyata negatif.

Anehnya lagi, sosok yang menggantikan posisi Kristina ke Istana Negara bukanlah anggota cadangan, melainkan orang lain yang baru.

Keluarga pun meminta penjelasan ke Dinas Pemuda dan, Keolahragaan (Dispora), Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Tapi kehadiran mereka tak diindahkan dan sempat terjadi adu mulut.

Sejumlah keluarga Kristina pun segera meluncur ke Dinas Pemuda dan, Keolahragaan (Dispora) Kabupaten Mamasa untuk meminta kejelasan. Dalam pertemuan tersebut malah terjadi adu mulut dan tak ada penjelasan sama sekali. Bahkan sekretaris Dispora, Kabul Dewani sempat tersulut emosi serta menggebrak meja.

“Tenang. Tolong media saksikan tadi dia pukul meja,” ujar seorang kerabat.

“Ini enggak fair, mana buktinya,” kata yang lain.

Sementara pihak Dispora menyarankan keluarga Kristina untuk melapor atau mengadu ke tingkat pejabat yang lebih tinggi.

“Kesimpulannya hanya satu, keluarga akan berangkat ke dinas provinsi mempertanyakan hal ini dan akan didampingi oleh pihak Dispora yang kami percayakan kepada salah satu pejabat setempat,” papar sekretaris Dispora Mamasa.

Sebelumnya akun Facebook Melkisedek Takatio mengunggah kisah saudaranya yang memilukan. Adik sepupunya bernama Kristina terpaksa batal jadi anggota Paskibraka upacara HUT ke-76 RI pada 17 Agustus 2021 mendatang di Istana Negara.

Siswi dari SMA Negeri 1 Mamasa ini dinyatakan gagal jelang satu hari keberangkatannya ke Jakarta. Alasannya dia dinyatakan positif Covid-19.

“Menurut informasi dari Dispora Provinsi, adik kami dibatalkan diberangkatkan ke Jakarta karena hasil Swab sebelum berangkat, hasil PCR-nya positif,” kata Melki Sedek

Pada tanggal 23 Juli 2021, Kristina dinyatakan positif. Setelah melalui rekomendasi dari Dinas Kesehatan, Kristina melakukan tes swab ulang.

Pada tanggal 26 Juli tes, selang satu hari dikabarkan ia negatif. Ini menjadi salah satu bukti kejanggalan.

“Jadi setelah pulang dari Mamuju, kami koordinasi dengan Dinas Kesehatan Mamasa dan ada rekomendasi dari mereka. Hingga kami dibolehkan PCR kedua, keluar hasilnya negatif. Hanya berselang tiga hari, ada perbedaan hasil,” ungkap Melki.

Keanehan lain yang dijumpai atas batalnya Kristina sebagai anggota Paskibraka yakni usai dinyatakan positif, tak ada penanganan khusus selama kepulangan ke kampung halaman.

“Di dalamnya ada banyak kejanggalan. Karena pertama, setelah adik saya dinyatakan positif, dia diberangkatkan dari Mamuju menuju Mamasa tanpa penanganan. Seharusnya jika adik kami positif, langsung ditangani oleh Satgas. Tapi yang terjadi pihak penyelenggara yang mengantar tanpa penanganan khusus,” papar Melki.

Ditambah lagi, sebelumnya sudah diumumkan nama cadangan bila anggota utama tidak bisa melanjutkan. Ternyata nama yang muncul adalah sosok lain.

“Kemudian soal penggantian, kan ada cadangan dari Pasangkayu. Harusnya yang berangkat adalah cadangan, tapi kenapa yang berangkat adalah orang lain,” sambungnya. (facebook Melkisedek Takatio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here