SEMARANG (Kilnas.com) – Penataan infrastruktur di area pusat Kota Semarang menjelang gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional dipandang bukan sekadar penyiapan sarana formalitas. Lebih dari itu, momen ini menjadi kesempatan emas untuk mempercantik estetika kota sekaligus mempromosikan daya tarik pariwisata daerah kepada ribuan pendatang dari berbagai penjuru tanah air.
Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Suharsono, menekankan bahwa penyelesaian penataan titik-titik vital—khususnya di kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima yang bakal menjadi pusat pembukaan event—harus digenjot secara maksimal demi memberikan impresi manis bagi para tamu luar daerah.
“Ketika seluruh kegiatan penataan dari dinas terkait tuntas dan selesai tepat waktu, masyarakat setempat serta para tamu dari luar daerah pasti akan memberikan penilaian yang sangat baik untuk Kota Semarang,” ujar Suharsono, Kamis (27/8/2026).
Kenyamanan Tamu Jadi Pertaruhan Nama Baik Daerah Suharsono menilai, kedatangan ribuan kontingen, juri, hingga pengunjung dari seluruh provinsi di Indonesia membawa multiplier effect yang besar bagi sektor ekonomi dan pariwisata Kota Semarang. Oleh karena itu, kesiapan sarana pendukung dan keasrian wajah kota menjadi kunci utama pencitraan daerah.
Ia mengimbau Pemkot Semarang untuk berfokus pada detail estetika, mulai dari kebersihan ruang publik, pencahayaan, kerapian taman, hingga aksesibilitas di kawasan lingkar pusat kota.
“Ini pertaruhan bagi Kota Semarang. Simpang Lima itu perwajahan sekaligus estetika Kota Semarang ada di sana. Jangan sampai gara-gara penataan yang belum tuntas, event nasional yang sudah kita siapkan luar biasa ini malah meninggalkan catatan tidak baik,” tegas politisi PKS tersebut.
Warisan Infrastruktur Bagi Warga Lokal Selain ditujukan untuk memikat para peserta MTQ Nasional, Suharsono menyebutkan bahwa percepatan pengerjaan fisik di pusat kota ini pada akhirnya akan memberikan dampak jangka panjang bagi warga Semarang sendiri.
Ruang publik yang makin tertata rapi, bersih, dan estetik bakal menjadi warisan infrastruktur yang dapat terus dinikmati oleh masyarakat lokal usai helatan ajang keagamaan tingkat nasional tersebut usai.
“Aspek estetikanya harus betul-betul dikejar dan secara substansi ada percepatan. Mari kita tunjukkan bahwa Semarang adalah tuan rumah yang ramah, siap, dan megah,” pungkasnya.


































