Waspada! Ini 9 Dampak Cuaca Ekstrem bagi Kesehatan

Kilnas.com – Cuaca ekstrem dapat datang secara tiba-tiba dan memberikan dampak terhadap kesehatan. Suhu yang terlalu panas, hujan dengan intensitas tinggi, hingga banjir dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi, infeksi, gangguan pernapasan, hingga memperburuk penyakit tertentu.

Cuaca ekstrem merupakan kondisi ketika keadaan atmosfer berlangsung tidak seperti biasanya dalam periode tertentu. Kondisinya dapat berupa suhu udara sangat tinggi, kemarau berkepanjangan, kekeringan, hujan deras, maupun angin kencang.

Di Indonesia, cuaca ekstrem dapat terjadi pada musim hujan, kemarau, maupun masa peralihan musim atau pancaroba. Dampaknya dapat dirasakan oleh siapa saja, tetapi beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta orang yang memiliki penyakit jantung, asma, diabetes, atau tekanan darah tinggi.

Dengan memahami berbagai risikonya, masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Kesehatan

Berikut sejumlah gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai ketika cuaca ekstrem terjadi:

1. Dehidrasi

Saat suhu udara meningkat, tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat untuk mempertahankan suhu normal. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, tubuh dapat mengalami dehidrasi.

Beberapa tandanya antara lain rasa haus berlebihan, tubuh lemas, pusing, mulut terasa kering, urine berwarna lebih pekat, serta frekuensi buang air kecil yang berkurang.

2. Heat Exhaustion dan Heatstroke

Paparan panas dalam waktu lama dapat menyebabkan heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Kondisi ini bisa ditandai dengan keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, dan kram otot.

Jika tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heatstroke. Pada kondisi ini, suhu tubuh meningkat sangat tinggi dan kemampuan tubuh mengatur suhu mengalami gangguan.

Gejalanya dapat berupa kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, serta kulit yang terasa sangat panas. Heatstroke merupakan kondisi darurat medis sehingga membutuhkan pertolongan segera di instalasi gawat darurat (IGD).

3. Gangguan Saluran Pernapasan

Perubahan suhu, udara yang lembap, maupun kualitas udara yang buruk dapat menyebabkan saluran pernapasan lebih mudah mengalami iritasi.

Keluhan yang muncul dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas. Kondisi tersebut juga berpotensi lebih berat pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru-paru tertentu.

4. Asma dan Alergi Kambuh

Perubahan cuaca secara ekstrem dapat menjadi salah satu pemicu munculnya kembali gejala asma atau alergi, khususnya pada orang yang sensitif.

Selain perubahan suhu, debu, asap, udara dingin, dan jamur yang berkembang di lingkungan lembap setelah hujan juga dapat menjadi pemicu.

Gejalanya dapat berupa bersin, hidung tersumbat, batuk, mengi, dada terasa berat, hingga sesak napas. Jika sesak terasa berat atau tidak kunjung membaik, segera cari bantuan medis.

5. Penyakit akibat Banjir

Air banjir berpotensi tercampur dengan kotoran, sampah, maupun limbah yang dapat membawa berbagai sumber penyakit. Kontak dengan air yang tercemar dapat meningkatkan risiko diare, infeksi kulit, leptospirosis, hepatitis A, hingga demam tifoid.

Luka atau goresan pada kulit juga lebih mudah mengalami infeksi apabila terkena air banjir.

Karena itu, sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan air banjir. Jika terlanjur terpapar, segera bersihkan tubuh menggunakan air bersih dan sabun.

6. Risiko Air Minum Tidak Layak saat Kekeringan

Kekeringan yang berlangsung panjang dapat menyebabkan persediaan air bersih berkurang sekaligus memengaruhi kualitas sumber air. Di sejumlah wilayah, air tawar juga dapat berubah menjadi lebih payau atau asin.

Air yang tercemar mikroorganisme dapat meningkatkan risiko diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air. Sementara itu, air dengan kandungan garam atau sodium tinggi dapat menambah asupan sodium, terutama menjadi perhatian bagi orang dengan tekanan darah tinggi.

Saat menghadapi kekeringan, pastikan air minum berasal dari sumber yang aman. Hindari mengonsumsi air yang berubah warna, berbau, atau terasa asin sebelum kualitasnya dipastikan.

7. Penyakit yang Ditularkan Nyamuk

Hujan deras dan banjir dapat meninggalkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya.

Di wilayah yang masih memiliki kasus malaria, genangan air juga dapat berkontribusi terhadap risiko penularan penyakit tersebut.

8. Penyakit Kronis Bisa Memburuk

Cuaca ekstrem dapat membuat beberapa kondisi penyakit menjadi lebih sulit dikendalikan. Suhu yang sangat panas, misalnya, dapat membuat jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko dehidrasi.

Sebaliknya, udara dingin dapat memperburuk keluhan pada penderita asma atau penyakit paru-paru. Pada penderita diabetes, kehilangan cairan akibat dehidrasi juga dapat memengaruhi kadar gula darah dan menyebabkan tubuh lebih mudah lemas.

9. Malnutrisi dan Kekurangan Gizi

Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan secara langsung oleh tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan pangan.

Banjir, hujan deras, dan kekeringan berkepanjangan dapat menyebabkan gagal panen serta mengganggu sektor peternakan dan perikanan. Kondisi tersebut berpotensi membuat makanan bergizi, seperti sayuran, buah, dan sumber protein, lebih sulit diperoleh atau mengalami kenaikan harga.

Jika berlangsung lama, keadaan ini dapat meningkatkan risiko kekurangan gizi, terutama pada anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Dampaknya bahkan dapat berlanjut setelah cuaca kembali normal karena produksi dan distribusi pangan membutuhkan waktu untuk pulih.

Cara Menjaga Kesehatan saat Cuaca Ekstrem

Masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem, di antaranya:

  • Minum air putih secara rutin dan jangan menunggu sampai merasa haus, terutama saat cuaca panas atau banyak berkeringat.
  • Batasi aktivitas berat ketika matahari sedang terik. Gunakan topi, payung, pakaian longgar, dan tabir surya jika harus beraktivitas di luar ruangan.
  • Pastikan makanan dan air minum tetap bersih serta aman dikonsumsi.
  • Rajin mencuci tangan menggunakan sabun, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
  • Hindari kontak langsung dengan air banjir. Gunakan sepatu bot atau alas kaki tertutup, lindungi luka dengan perban tahan air, dan bersihkan tubuh menggunakan air bersih serta sabun setelah terpapar.
  • Hilangkan genangan di sekitar rumah dengan mengosongkan wadah penampung air, menutup tempat penyimpanan air, serta membersihkan saluran air secara rutin.
  • Gunakan masker ketika kualitas udara memburuk, terutama saat kondisi lingkungan berasap atau berdebu.
  • Pastikan persediaan obat rutin tetap tersedia, khususnya bagi orang yang memiliki penyakit tertentu.

Jika suatu wilayah berpotensi mengalami kemarau panjang atau kekeringan, masyarakat dapat menyiapkan cadangan air ketika akses terhadap air bersih masih mudah. Air sebaiknya disimpan dalam wadah yang bersih dan tertutup.

Selama periode kekeringan, penggunaan air juga perlu dilakukan secara hemat. Prioritaskan persediaan untuk kebutuhan penting, seperti minum, memasak, dan mandi.

Cuaca ekstrem memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya terhadap kesehatan dapat diminimalkan melalui persiapan yang baik. Perhatian lebih perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis karena kelompok tersebut lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini