Kilnas.com – Gejala demam berdarah dengue (DBD) pada anak perlu dikenali sejak dini, terutama ketika memasuki pergantian musim. Pada kondisi tersebut, nyamuk pembawa virus dengue dapat berkembang biak lebih cepat sehingga risiko penularan ikut meningkat.
DBD merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti. Setelah seseorang terpapar virus, gejala umumnya dapat muncul dalam rentang sekitar 4 hari hingga 2 minggu.
Salah satu tanda yang cukup khas adalah demam dengan pola yang dikenal sebagai pelana kuda. Untuk membantu menurunkan demam, penggunaan obat harus dilakukan secara tepat. WHO merekomendasikan paracetamol sesuai aturan pakai, sementara obat seperti ibuprofen sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Gejala DBD pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, DBD terkadang menyerupai flu atau demam biasa. Kondisi tersebut membuat gejalanya dapat terabaikan. Padahal, terdapat sejumlah tanda yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Demam Tinggi
Demam tinggi merupakan salah satu gejala DBD yang paling umum pada anak dan dapat mencapai suhu sekitar 40°C.
Demam akibat DBD biasanya muncul secara mendadak dan dapat mengikuti pola pelana kuda. Pada 1–3 hari pertama, suhu tubuh bisa meningkat tinggi. Kemudian suhu menurun pada hari ke-4 hingga ke-6, yang merupakan fase kritis, sebelum kembali meningkat selama sekitar 2–3 hari.
Demam juga dapat disertai mual, muntah, serta rasa nyeri pada otot, tulang, atau persendian.
Untuk membantu mengatasi demam, paracetamol dapat digunakan sesuai petunjuk. Orang tua sebaiknya tidak memberikan ibuprofen tanpa arahan dokter karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan.
2. Muncul Bintik Merah
Bintik merah pada kulit menjadi salah satu tanda yang cukup mudah terlihat pada anak dengan DBD. Namun, munculnya bintik merah tidak selalu berarti anak sudah memasuki fase kritis.
Fase kritis umumnya berlangsung pada hari ke-4 hingga ke-6, ketika suhu tubuh mulai turun. Pada periode tersebut, jumlah trombosit dapat menurun dan risiko perdarahan meningkat.
Bintik merah yang tidak memudar ketika ditekan, mimisan, maupun munculnya memar dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
3. Sakit Kepala
Anak yang mengalami DBD juga dapat mengeluhkan sakit kepala, termasuk rasa sakit di sekitar atau belakang mata.
Keluhan tersebut terkadang sulit disampaikan oleh anak, terutama yang masih kecil. Orang tua dapat melihat tanda seperti anak menjadi lebih rewel, gelisah, atau mengalami kesulitan tidur.
4. Nyeri Otot, Sendi, dan Tulang
DBD dapat menyebabkan rasa nyeri pada otot, sendi, maupun tulang. Nyeri yang dirasakan sebagian pasien cukup berat sehingga penyakit ini juga dikenal dengan istilah breakbone fever.
Pada anak, rasa nyeri tersebut dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman. Akibatnya, anak bisa menjadi lebih rewel dan sulit beristirahat.
5. Mimisan, Gusi Berdarah, dan Memar
Penurunan jumlah trombosit atau trombositopenia pada DBD dapat membuat tubuh lebih mudah mengalami perdarahan.
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain mimisan, gusi berdarah, serta memar pada kulit tanpa penyebab yang jelas.
Jika anak menunjukkan tanda-tanda perdarahan, diperlukan pemeriksaan dan pemantauan medis secara lebih ketat untuk mencegah kondisi berkembang menjadi DBD berat atau menimbulkan komplikasi.
Cegah DBD dengan 3M Plus
Selain mengenali gejalanya, orang tua juga perlu melakukan berbagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko DBD pada anak.
Salah satu upaya yang dianjurkan adalah 3M Plus, yaitu:
- Menguras tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup rapat wadah yang digunakan untuk menyimpan air.
- Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat genangan air.
Sementara itu, langkah Plus dapat dilakukan dengan menggunakan losion atau obat antinyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
Menanam tanaman yang dianggap dapat membantu mengusir nyamuk, seperti lavender atau serai, juga dapat menjadi langkah tambahan.
Tempat penampungan air yang sulit dikuras dapat diberikan bubuk larvasida sesuai petunjuk. Kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar juga sebaiknya dihindari karena dapat menjadi tempat nyamuk beristirahat.
Dengan mengenali tanda-tanda DBD sejak awal dan menerapkan langkah pencegahan secara rutin, orang tua dapat membantu menurunkan risiko penularan dengue pada anak. Jika anak mengalami demam tinggi atau menunjukkan tanda perdarahan, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang sesuai.




































