Kilnas.com – Gejolak di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz. Teheran bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap kapal yang nekat melintas akan menjadi sasaran militer.
Langkah ekstrem ini merupakan balasan langsung atas agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu lalu. Serangan udara bertajuk “Operasi Epic Fury” tersebut dikonfirmasi telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, sebuah peristiwa yang mengubah peta geopolitik secara drastis dalam sekejap.
Ancaman Sabotase Jalur Energi
Juru bicara pihak keamanan Iran, Jabbari, menegaskan bahwa penutupan selat hanyalah awal. Pihaknya berencana menyasar infrastruktur pipa minyak di kawasan untuk memastikan pasokan energi global lumpuh total.
“Kami tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Dalam hitungan hari, pasar akan melihat harga minyak melonjak ke angka US$ 200 per barel,” tegas Jabbari melalui kantor berita Tasnim.
Ia menambahkan bahwa strategi ini sengaja dirancang untuk memukul titik lemah Washington. “Amerika Serikat yang terjerat utang sangat bergantung pada minyak dari sini. Mereka harus sadar bahwa akses itu kini sudah tertutup rapat,” imbuhnya.
Dunia Dalam Bayang-Bayang Resesi
Ancaman ini bukan sekadar retorika politik. Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia yang menghubungkan produsen Timur Tengah dengan pasar global. Berikut adalah data krusial terkait jalur tersebut:
- Volume Transit: Sekitar 21 juta barel minyak mentah melintas setiap harinya (Data EIA).
- Pangsa Pasar: Menguasai hampir 20% dari total konsumsi minyak dunia.
- Dampak Harga: Pada pembukaan perdagangan Senin, harga energi sudah meroket akibat terhentinya lalu lintas tanker.
Perbandingan dan Proyeksi Pasar
Meskipun Iran pernah melontarkan ancaman serupa pada 2019, situasi kali ini dinilai jauh lebih berbahaya karena jatuhnya korban di level tertinggi kepemimpinan.
Sebagai perbandingan, minyak Brent baru saja ditutup di level US$ 80 per barel kemarin. Namun, analisis dari JPMorgan menyebutkan jika blokade ini berlangsung lama, harga US$ 120 hingga US$ 150 akan tercapai dengan mudah, terutama jika fasilitas produksi di Arab Saudi ikut terdampak serangan balasan.








































