Kilnas.com – Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah serangan udara gabungan AS–Israel menghantam sejumlah target strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Operasi militer tersebut dikonfirmasi Presiden AS, Donald Trump, sebagai “operasi tempur besar” yang diberi nama Operasi Epic Fury.
Trump menyatakan tujuan utama serangan adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Pentagon menyebut lebih dari 1.250 target telah diserang sejak hari pertama operasi.
Berikut empat fakta utama terkait Operasi Epic Fury:
1. Biaya Operasi Capai Rp13,13 Triliun dalam 24 Jam
Laporan kantor berita Anadolu memperkirakan AS menghabiskan sekitar USD779 juta atau setara Rp13,13 triliun hanya dalam 24 jam pertama operasi.
Selain itu, biaya persiapan militer sebelum serangan—termasuk pengerahan kapal perang dan relokasi pesawat tempur—diperkirakan menelan tambahan sekitar USD630 juta.
Berdasarkan laporan Costs of War 2025 dari Universitas Brown, sejak Oktober 2023 AS telah menggelontorkan lebih dari USD31 miliar untuk dukungan militer dan operasi terkait konflik di Timur Tengah, termasuk untuk Israel.
Satu kelompok tempur kapal induk seperti USS Gerald R. Ford disebut membutuhkan sekitar USD6,5 juta per hari untuk beroperasi.
2. Serangan Skala Besar Libatkan 20+ Sistem Senjata
Menurut United States Central Command (CENTCOM), lebih dari 20 sistem senjata digunakan dalam operasi ini, mencakup kekuatan udara, laut, darat, hingga pertahanan rudal.
Kekuatan udara yang dikerahkan:
- B-1 Lancer
- B-2 Spirit (pembom siluman)
- F-22 Raptor
- F-35 Lightning II
- F-15, F-16, F/A-18 Super Hornet
- A-10 Thunderbolt II
- EA-18G Growler
- Pesawat AWACS
Sistem jarak jauh & tak berawak:
- Drone MQ-9 Reaper
- Drone LUCAS (penggunaan tempur pertama)
- HIMARS
- Rudal jelajah Tomahawk
Sistem pertahanan:
- Rudal Patriot
- THAAD
Dua kelompok tempur kapal induk—dipimpin oleh USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford juga dikerahkan untuk memperkuat proyeksi kekuatan di kawasan.
3. Korban Jiwa dan Dampak Besar di Iran
Gelombang pertama serangan dilaporkan menghantam kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut tewas dalam serangan tersebut. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 555 orang tewas di lebih dari 130 lokasi hingga hari Senin.Serangan ini memicu respons balasan dari Iran dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.
4. Kekhawatiran Bukan Hanya Soal Uang, Tapi Stok Senjata
Meski anggaran pertahanan AS mencapai hampir USD1 triliun per tahun, para analis menilai tantangan terbesar bukan semata biaya, melainkan ketersediaan inventaris senjata, terutama rudal pencegat seperti Patriot dan SM-6.
Christopher Preble dari Stimson Center menyebut laju intersepsi rudal saat ini tidak mungkin bertahan lama tanpa menguras stok secara signifikan.
Produksi rudal pencegat pun tidak bisa dilakukan secara instan karena kompleksitas teknologi dan keterbatasan kapasitas manufaktur. Selain itu, sebagian stok juga dialokasikan untuk Ukraina dan kawasan Indo-Pasifik.








































