Kilnas.com – Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan hebat pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hingga ke level 8.200-an, terseret oleh sentimen negatif terkait isu penyesuaian indeks global, yakni MSCI dan FTSE Russell.
Melemahnya IHSG kali ini beriringan dengan kondisi nilai tukar Rupiah yang juga mengalami koreksi cukup dalam, menyentuh angka Rp 16.825 per Dolar AS. Kombinasi tekanan nilai tukar dan ketidakpastian bursa membuat investor cenderung bersikap defensif.
Menanti Reformasi Bursa
Equity Analyst CNBC Indonesia, Gelson Kurniawan, menyebutkan bahwa pelaku pasar saat ini sedang dalam posisi wait and see. Fokus utama investor tertuju pada bagaimana bursa saham melakukan reformasi untuk menjawab isu-isu strategis yang dilemparkan oleh lembaga indeks internasional seperti MSCI, FTSE Russell, hingga lembaga pemeringkat Moody’s.
“Pasar masih memperhatikan betul bagaimana langkah reformasi bursa ke depan. Isu mengenai inklusi dan bobot saham Indonesia di indeks global menjadi penggerak utama volatilitas saat ini,” ungkap Gelson dalam dialog di Power Lunch CNBC Indonesia.
Dampak bagi Investor
Penurunan tajam hingga menjauhi level psikologis 8.300 ini menandakan adanya kekhawatiran sistemik terhadap aliran modal asing (capital outflow). Jika isu rebalancing indeks ini berujung pada pengurangan bobot saham Indonesia, maka risiko pelemahan IHSG diprediksi masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Hingga penutupan perdagangan, IHSG belum menunjukkan tanda-tanda rebound yang kuat. Para analis menyarankan investor untuk tetap waspada dan memantau rilis data ekonomi domestik serta perkembangan kebijakan dari otoritas bursa untuk meredam sentimen negatif ini.




































