Kilnas.com – Pasar kripto kembali menghadapi fase krusial setelah Bitcoin (BTC) merosot ke level USD 59.930 atau sekitar Rp1,007 miliar. Penurunan sebesar 32% ini menjadi koreksi terdalam sejak siklus halving 2024, sekaligus memicu diskusi hangat di kalangan analis mengenai arah tren selanjutnya.
Laporan terbaru dari Kaiko Research menyebutkan bahwa kondisi saat ini kemungkinan besar merupakan “titik tengah” dari fase bear market. Jika berkaca pada siklus historis empat tahunan, Bitcoin biasanya mengalami penurunan antara 60% hingga 68% sebelum membentuk dasar harga yang kuat. Apabila pola sejarah ini terulang, ada risiko Bitcoin bisa terseret ke kisaran USD 40.000 hingga USD 50.000 (sekitar Rp672 juta – Rp840 juta). Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun harga sudah turun signifikan, ruang untuk koreksi lanjutan belum sepenuhnya tertutup.
Melemahnya Minat Transaksi
Sejalan dengan penurunan harga, volume perdagangan di 10 bursa kripto terbesar dunia juga mengalami penyusutan sekitar 30%, dari USD 1 triliun menjadi USD 700 miliar. Penurunan volume ini mencerminkan berkurangnya aktivitas spekulatif di pasar. Secara historis, fase pelemahan volume seperti ini sering kali menjadi periode penyesuaian sebelum siklus akumulasi baru dimulai.
Harapan di Area Support
Di sisi lain, level Rp1 miliar dinilai sebagai area support yang cukup solid karena berdekatan dengan rata-rata pergerakan 200 mingguan (200-week moving average). Selain itu, indikator Relative Strength Index (RSI) menunjukkan bahwa Bitcoin saat ini sudah masuk dalam kondisi oversold, menyamai level terendah pada tahun 2018 dan 2020.
Kesimpulan
Saat ini Bitcoin berada di titik persimpangan antara sinyal teknikal yang sudah jenuh jual dengan kurangnya katalis positif untuk memicu rebound cepat. Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor diharapkan tetap disiplin dalam mengelola risiko dan memantau kekuatan support sebelum mengambil keputusan strategis.



































