Trump Tunda Serangan ke Infrastruktur Energi Iran, Diplomasi Selat Hormuz Jadi Fokus

SIGIJATENG.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya upaya diplomatik untuk mendorong Teheran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.

Melalui pernyataan di platform Truth Social, Trump menyebut penundaan selama sepuluh hari tersebut merupakan respons atas permintaan langsung dari pemerintah Iran. Ia mengklaim adanya perkembangan positif dalam komunikasi tertutup antara kedua pihak, meski pernyataan resmi dari Teheran kerap menunjukkan sikap sebaliknya.

Trump menegaskan bahwa proses negosiasi berjalan lebih baik dari yang diberitakan sejumlah media. Ia bahkan menyebut laporan yang beredar sebagai tidak akurat, sembari tetap membuka peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Penundaan ini menjadi yang kedua dalam kurun satu pekan terakhir. Sebelumnya, Washington mengancam akan melumpuhkan jaringan listrik Iran apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka dalam waktu 48 jam. Namun, wacana menyerang infrastruktur energi sipil memicu perdebatan tajam di kalangan hukum internasional.

Sejumlah pakar menilai bahwa serangan terhadap fasilitas energi yang digunakan masyarakat sipil berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, termasuk Konvensi Jenewa. Organisasi HAM seperti Amnesty International juga mengkritik keras rencana tersebut, menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap prinsip kemanusiaan. Sementara itu, pemerintah AS memandang fasilitas tersebut memiliki fungsi ganda karena turut mendukung operasi militer Iran.

Di sisi lain, dampak konflik yang dimulai sejak akhir Februari terus mengguncang ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz—yang menjadi jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia—membuat lalu lintas tanker nyaris berhenti akibat tingginya risiko keamanan.

Data terbaru menunjukkan eskalasi konflik telah menelan korban jiwa yang signifikan. Di Iran, korban diperkirakan mendekati dua ribu orang, sementara di pihak AS dilaporkan belasan personel militer tewas. Ketegangan juga meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah, dengan meningkatnya serangan terhadap pangkalan militer AS.

Meski situasi masih memanas, Trump menyatakan optimisme bahwa Iran akan menerima proposal kesepakatan yang diajukan Washington. Namun demikian, laporan intelijen menyebutkan bahwa AS tetap menyiapkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan operasi darat, yang berisiko memperluas konflik menjadi perang terbuka di kawasan. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini