SBY Wanti-Wanti Indonesia: Jangan Naif, Perang Dunia Bisa Pecah Kapan Saja!

Kilnas.com – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan peringatan keras mengenai rapuhnya stabilitas geopolitik global saat ini. Dalam kuliah umum di Gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026), SBY menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap lugu dengan merasa akan aman-aman saja jika perang dunia pecah.

Menurut SBY, keterhubungan dunia saat ini membuat tidak ada satu pun negara yang benar-benar bisa mengisolasi diri dari dampak konflik besar.

Navigasi di Tengah Tarik-Ulur

SBY menyoroti adanya pergeseran kekuatan dunia dari era Perang Dingin yang bersifat bipolar (Blok Barat vs Blok Timur) menuju tatanan multipolar. Namun, ia melihat adanya ambisi dari Amerika Serikat untuk tetap menjadi penguasa tunggal (unipolar).

“Dunia seharusnya sudah multipolar—melibatkan AS, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, hingga negara-negara BRICS. Namun, Amerika tampak ingin kembali menjadi lone ranger atau pemimpin global tunggal,” urai SBY.

Dalam kondisi polaritas yang tumpang tindih ini, SBY menekankan pentingnya kemampuan Indonesia untuk melakukan navigasi strategis. “Kita harus bisa memosisikan langkah kita dalam tatanan global yang penuh polarisasi seperti sekarang.”

Belajar dari Sejarah: “Pelengkap Penderita”

SBY mengingatkan agar Indonesia tidak mengulangi kesalahan sejarah. Ia mencontohkan Perang Dunia II, di mana Indonesia tetap menjadi korban meski tidak terlibat langsung dalam pemicu konflik.

“Jangan katakan ‘kita tidak punya masalah dengan negara lain’. Itu naif. Dalam dunia yang interconnected, jika tatanan global kacau, kita bisa sekadar menjadi pelengkap penderita atau korban jika hanya berdiam diri,” tegas mantan Menko Polkam tersebut.

Salah satu poin paling krusial dalam paparan SBY adalah transformasi doktrin militer. Ia menilai strategi klasik seperti perang gerilya atau pertahanan pantai sudah tidak cukup menghadapi modern warfare.

SBY mendorong penguatan signifikan pada kekuatan udara (air power) sebagai garda depan pertahanan modern.

  • Ancaman Nyata: Serangan udara (airstrike) yang bisa melumpuhkan pusat pemerintahan di Jakarta atau industri pertahanan seperti Pindad dan PAL dalam sekejap.
  • Kesiapan Hybrid: TNI dituntut siap menghadapi perang hibrida yang mengombinasikan teknologi modern dan doktrin mutakhir.
  • Ketahanan Nasional: Selain militer, SBY meminta pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan energi guna menghadapi potensi disrupsi rantai pasok global.

“Ini adalah era teknologi modern. Kita harus meningkatkan daya tangkal (deterrence). Diplomasi internasional harus jalan, tapi persiapan di dalam negeri adalah harga mati,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini