Sinyal Bahaya Bitcoin: Ambruk ke USD 55 Ribu Jadi Ancaman Nyata

    Kilnas.com – Kondisi pasar kripto global kembali diselimuti awan mendung. Bitcoin (BTC) terpantau masih terjebak dalam tren range-bound yang cenderung melemah. Berdasarkan data terbaru dari Glassnode, aset kripto nomor satu ini telah menembus level True Market Mean, sebuah indikasi bahwa pasar sedang memasuki zona defensif dan berisiko terseret ke level Realized Price di kisaran USD 55.000.

    Dalam laporan yang dirilis Jumat (20/2/2026), Glassnode menegaskan bahwa sentimen bearish masih memegang kendali. Hal ini diperparah dengan loyonya permintaan di pasar spot maupun instrumen derivatif.

    “Arus masuk di pasar spot dan permintaan ETF masih stagnan. Tren akumulasi terlihat rapuh, dan meski kepanikan lindung nilai pada posisi opsi mulai mereda, belum ada keyakinan baru dari para bulls untuk mendorong harga naik,” tulis Glassnode.

    Analisis Batas Bawah: Penurunan 18% Menanti?

    Para analis memproyeksikan bahwa dalam fase pelemahan yang lebih dalam, harga biasanya akan mencari dukungan pada Realized Price—rata-rata harga beli seluruh Bitcoin yang beredar. Saat ini, angka tersebut berada di USD 54.900, atau sekitar 18% di bawah harga pasar saat ini.

    Jika skenario ini terjadi, total koreksi dari titik puncak hanya mencapai 56,4%. Angka ini sebenarnya jauh lebih “jinak” dibandingkan keruntuhan pada dua siklus pasar bearish sebelumnya.

    Investor Institusi Masih Menahan Diri

    Rendahnya minat beli dari “pemain besar” menjadi beban tambahan bagi Bitcoin. Indikator Accumulation Trend Score hanya berada di angka 0,43, jauh dari angka psikologis 1,0 yang biasanya menandakan aksi borong institusi.

    Data dari bursa besar seperti Binance dan Coinbase juga menunjukkan tren serupa:

    • Spot Cumulative Volume Delta (CVD): Tercatat negatif, membuktikan tekanan jual masih mendominasi pasar.
    • Aktivitas Jaringan: Data Santiment mengungkap jumlah alamat aktif dan alamat baru merosot tajam sejak tahun 2025.

    “Pemulihan harga yang berkelanjutan membutuhkan suntikan likuiditas baru dan akumulasi yang konsisten dari investor,” tambah laporan tersebut.

    Willy Woo: Volatilitas Masih Menjadi Momok

    Senada dengan laporan on-chain, analis kondang Willy Woo melihat tren bearish Bitcoin justru semakin solid. Menurutnya, lonjakan volatilitas saat ini menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam tekanan hebat.

    “Bitcoin resmi masuk ke fase bear market saat volatilitas meledak. Saat ini, volatilitas terus merangkak naik, yang artinya tren penurunan masih memiliki momentum kuat,” jelas Woo.

    Namun, ia memberikan sedikit titik terang. Menurutnya, tekanan jual biasanya baru akan mencapai titik jenuh ketika volatilitas mencapai puncaknya di fase akhir pasar bearish. Hingga saat itu tiba, investor tampaknya harus bersiap menghadapi fluktuasi yang lebih tajam.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini