Kilnas.com – Dunia tengah menghadapi ancaman krisis ekonomi dan keamanan serius. Presiden World Bank Group, Ajay Banga, memperingatkan adanya kesenjangan raksasa antara jumlah angkatan kerja baru dengan ketersediaan lapangan kerja. Dalam 15 tahun ke depan, diprediksi akan ada 1,2 miliar anak muda di negara berkembang yang memasuki usia produktif, namun pasar kerja diperkirakan hanya mampu menyediakan 400 juta posisi saja.
Kesenjangan sebesar 800 juta pekerjaan ini dinilai bukan sekadar urusan pembangunan, melainkan ancaman stabilitas nasional yang bisa memicu konflik dan migrasi besar-besaran jika tidak segera ditangani.
Strategi Tiga Pilar: Melawan Krisis dengan Investasi SDM
Untuk meredam “bom waktu” ini, Bank Dunia mendorong tiga langkah strategis:
- Penguatan Infrastruktur & Skill: Membangun akses listrik dan transportasi serta pusat pelatihan yang sinkron dengan kebutuhan pasar. Contoh sukses di India menunjukkan hampir 100% lulusan pelatihan vokasi langsung terserap kerja karena kurikulumnya relevan.
- Iklim Bisnis yang Pasti: Menyederhanakan regulasi agar sektor swasta, terutama UMKM, berani melakukan ekspansi dan merekrut tenaga kerja dalam skala besar.
- Skala Usaha & Pembiayaan: Memberikan akses dana murah dan penjaminan risiko bagi bisnis di sektor krusial seperti agribisnis, kesehatan, dan manufaktur.
Realita Pahit: Sektor Informal yang Kian Membengkak
Data ILO Mei 2025 mengungkap fakta miris: pertumbuhan pekerjaan informal (13,7%) kini lebih cepat daripada sektor formal (12,6%). Saat ini, lebih dari 2 miliar orang di dunia atau sekitar 57,8% pekerja global menggantungkan hidup pada sektor informal yang minim perlindungan dan tanpa kontrak tetap.
Di Indonesia, kondisinya pun cukup kritis. Per November 2025, BPS mencatat hanya sekitar 42,3% tenaga kerja yang berada di sektor formal. Sisanya, jutaan orang bekerja sebagai buruh lepas, pedagang, hingga mitra ojek online yang statusnya tidak menentu di tengah ketidakpastian ekonomi.
Ancaman “Mismatch” Pendidikan
Isu lain yang memperparah keadaan adalah ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan pekerjaan. Tercatat hanya 47,7% pekerja yang bidang pendidikannya linear dengan pekerjaannya saat ini. Di sisi lain, meski produktivitas global naik 17,9% dalam satu dekade terakhir, pekerja di sektor informal justru tidak mencicipi kenaikan kesejahteraan tersebut karena terjebak di pekerjaan berupah rendah.
Jika transformasi ekonomi ke arah digital dan hijau tidak dibarengi dengan perlindungan bagi pekerja informal, Indonesia dan dunia berisiko membiarkan generasi mudanya terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kerentanan ekonomi yang permanen.







































