SEMARANG (Kilnas.com) – DPRD Kota Semarang meminta Pemerintah Kota Semarang segera melakukan kajian terhadap jalur Silayur di Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan. Kajian ini dinilai mendesak mengingat jalur tersebut kerap menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto AB, menegaskan bahwa kondisi jalur Silayur saat ini sudah dalam tahap darurat dan memerlukan penanganan segera guna mengurangi risiko kecelakaan.
“Kami melihat kondisi jalur Silayur ini berbahaya dan harus segera ditangani karena tingkat kecelakaannya cukup tinggi,” ujar Rukiyanto pada Senin (3/3/2025).
Menurutnya, jalur yang menghubungkan Jrakah menuju Mijen tersebut memiliki kontur yang cukup ekstrem, dengan tanjakan dan turunan curam yang berisiko tinggi bagi pengendara.
“Jika melihat struktur jalannya, jalur ini mirip dengan jalur Hanoman yang dulu juga dikenal rawan kecelakaan. Ini bisa disebut sebagai Hanoman jilid 2. Oleh karena itu, kajian mendalam dari Pemkot Semarang sangat diperlukan,” tambahnya.
Namun, Rukiyanto menegaskan bahwa kajian terhadap jalur ini tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh karena kondisi geografisnya yang sulit untuk diperbaiki hanya dengan pelandaian jalan.
“Mau bagaimana pun dilakukan pelandaian, tetap saja jalannya curam. Kajian harus benar-benar komprehensif,” jelas politisi PDIP tersebut.
Selain itu, ia juga menyoroti keberadaan kawasan industri di Mijen yang memperparah situasi lalu lintas di jalur Silayur. Kehadiran kendaraan berat semakin menambah risiko kecelakaan di daerah tersebut.
Meskipun pemerintah telah menetapkan aturan pembatasan jam operasional bagi kendaraan berat di atas delapan ton yang hanya boleh melintas pada malam hari, kecelakaan tetap sering terjadi.
“Aturan jam operasional kendaraan berat sudah diterapkan, tetapi tetap saja banyak kecelakaan fatal yang terjadi di jalur ini,” ungkapnya.
Ditambah dengan rencana pembangunan exit tol Ngaliyan, arus lalu lintas di jalur tersebut diperkirakan semakin padat, sehingga diperlukan solusi jangka panjang.
Sebagai langkah konkret, Rukiyanto berharap Pemkot Semarang segera merealisasikan proyek Semarang Outer Ring Road (SORR) yang menghubungkan BSB dengan Mangkang. Keberadaan jalur alternatif ini diharapkan dapat mengurangi beban lalu lintas di jalur Silayur dan menekan angka kecelakaan.
“Kami berharap Pemkot mempertimbangkan kembali pembangunan SORR sebagai bagian dari solusi dalam kajian ini. Yang jelas, kajian ini harus segera dilakukan sebelum kondisi semakin memburuk,” pungkasnya.



































