Fenomena “Panic Buying” BBM Buntut Eskalasi Konflik di Selat Hormuz

Kilnas.com – Gejolak di Timur Tengah pasca-serangan terhadap Iran mulai memicu reaksi berantai di sektor energi global. Aksi borong bahan bakar (panic buying) dilaporkan mulai terjadi di sejumlah negara maju seiring meningkatnya kekhawatiran atas terhentinya pasokan minyak dari Selat Hormuz, jalur krusial yang mengangkut 20% kebutuhan energi dunia.

Korea Selatan: Antrean Mengular di Tengah Krisis

Di Seoul, pemandangan antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) menjadi fenomena harian sejak Rabu. Lonjakan harga bensin yang melampaui 1.800 won (sekitar Rp21.000) per liter membuat warga bergegas memenuhi tangki kendaraan mereka sebelum harga melambung lebih tinggi.

Situasi kian kritis bagi Korea Selatan setelah dilaporkan sebanyak 26 kapal tanker miliknya tertahan di sekitar Selat Hormuz menyusul insiden terbakarnya 10 kapal tanker akibat konflik. Sebagai importir energi terbesar ketujuh di dunia, Seoul sangat rentan mengingat 70,7% kebutuhan minyak mentahnya bergantung pada jalur pelayaran tersebut. Jika gangguan logistik ini menetap, sektor ekspor utama seperti otomotif dan elektronik diprediksi akan tertekan hebat.

Australia: Pemerintah Peringatkan Spekulan Harga

Kondisi serupa merambah ke Australia, khususnya di wilayah Perth dan Queensland. Di Brisbane, harga BBM melesat hingga 219,9 sen per liter hanya dalam hitungan hari, memicu langkah tegas dari badan otomotif setempat untuk melaporkan para pengecer ke Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) atas dugaan praktik tidak adil.

Perdana Menteri Australia Barat, Roger Cook, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. “Pasokan bahan bakar kita masih berkelanjutan. Jangan menaikkan harga hanya karena memanfaatkan kekhawatiran warga akan masa depan,” tegasnya. Menteri Energi Chris Bowen menambahkan bahwa stok nasional saat ini masih aman setidaknya hingga bulan Mei.

Inggris: Lonjakan Permintaan di Kota-Kota Besar

Eskalasi di Timur Tengah juga memicu peringatan darurat bagi pengemudi di Inggris. Laporan dari London, Manchester, dan Liverpool menunjukkan warga harus mengantre lebih dari satu jam untuk mendapatkan bensin. Otoritas setempat mendesak para pengendara agar tetap pada rutinitas pengisian normal dan tidak terjebak dalam aksi beli yang impulsif.

“Perdagangan bahan bakar memang menunjukkan kenaikan permintaan, namun tidak ada alasan untuk membuang waktu dan uang dengan mengantre jika tidak mendesak,” ungkap otoritas transportasi Inggris sebagaimana dikutip dari The Independent.

Meskipun harga grosir global meningkat, banyak pakar berpendapat bahwa gangguan pasokan fisik belum terjadi secara menyeluruh. Namun, selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda, sentimen pasar diprediksi akan tetap berada pada level waspada tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini