Kilnas.com – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan aksi jual masif pada pembukaan perdagangan Jumat (27/2/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 1,47% ke level 8.114,00 hanya dalam 11 menit pertama setelah pasar dibuka.
Meski menjelang pukul 09.36 WIB indeks berhasil memangkas koreksi menjadi -0,29%, tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) masih menghantui pergerakan pasar hari ini.
Saham Konglomerat dan Perbankan Jadi Pemberat Utama
Berdasarkan data Refinitiv, “biang kerok” utama yang menyeret indeks turun adalah dua saham raksasa dari grup konglomerat, yaitu Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Secara akumulasi, sepuluh emiten top laggards pagi ini menyumbang sekitar sepertiga dari total pelemahan indeks.
Berikut adalah jajaran penekan utama (Index Points):
- BREN: -9,26 poin
- DSSA: -8,23 poin
- BBCA: -7,11 poin
- BBRI: -6,29 poin
- TLKM: -5,26 poin
Tekanan jual ini mencerminkan dominasi sentimen negatif, di mana 507 saham tercatat melemah berbanding hanya 124 saham yang menguat.
Dari sisi teknikal, penurunan ini bukan tanpa pertanda. Para analis menyoroti terbentuknya pola Bearish Rising Wedge pasca kegagalan indeks menembus level psikologis 8.400. Pola ini mengindikasikan bahwa tren penguatan sejak akhir Januari mulai kehilangan tenaga (exhaustion).
Secara teori, jika pola ini terkonfirmasi, IHSG berisiko melakukan penembusan ke bawah (breakdown) dengan target koreksi lanjutan hingga area support 7.900 – 7.800. Pelaku pasar disarankan tetap waspada mengingat ruang penurunan masih terbuka sekitar 4% dari level saat ini.






































