Tensi Washington-Teheran Memuncak: Ambisi Nuklir Iran di Tengah Kepungan Militer AS

Kilnas.com – Bayang-bayang konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian nyata menyusul pengerahan besar-besaran aset militer Paman Sam ke kawasan Timur Tengah. Dalam pidato kenegaraan terbaru di hadapan Kongres, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa eskalasi ini merupakan langkah preventif guna memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Meski menyatakan tetap membuka pintu diplomasi, Trump memberikan peringatan keras. Ia mengklaim Iran kembali membangun program nuklirnya dari nol setelah sempat lumpuh akibat serangan udara AS pada Juni tahun lalu.

Bayang-bayang konfrontasi bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian nyata menyusul pengerahan besar-besaran aset militer Paman Sam ke kawasan Timur Tengah. Dalam pidato kenegaraan terbaru di hadapan Kongres, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa eskalasi ini merupakan langkah preventif guna memastikan Teheran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

Meski menyatakan tetap membuka pintu diplomasi, Trump memberikan peringatan keras. Ia mengklaim Iran kembali membangun program nuklirnya dari nol setelah sempat lumpuh akibat serangan udara AS pada Juni tahun lalu.

Teheran Membantah, IRGC Gelar Latihan Perang

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara eksplisit membantah tuduhan Washington via media sosial X. Ia menegaskan bahwa keyakinan mendasar Iran tetap sama: tidak akan pernah mengembangkan bom nuklir dalam kondisi apa pun.

Namun, di lapangan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) justru menunjukkan kesiapan tempur. Iran secara resmi memulai latihan militer gabungan “1404” di sepanjang pesisir Teluk Persia. Latihan ini melibatkan teknologi drone, rudal darat-ke-laut, hingga pasukan khusus. Komandan Pasukan Darat IRGC, Mohammad Karami, menyatakan bahwa mobilisasi ini dilakukan berdasarkan “ancaman nyata” yang sedang dihadapi negara tersebut.

Diplomasi di Ambang Krisis

Ironisnya, ketegangan militer ini terjadi tepat saat kedua negara dijadwalkan kembali ke meja perundingan di Jenewa, Swiss, pada Kamis (26/2) besok. Perundingan tidak langsung yang dimediasi oleh Oman ini dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk meredam konflik sebelum situasi lepas kendali.

Dunia internasional kini menanti apakah pertemuan di Jenewa mampu melahirkan kesepakatan konkret, atau justru menjadi saksi pecahnya perang terbuka di kawasan Teluk yang sensitif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini