Kilnas.com – Dominasi industri otomotif Tiongkok di panggung global memang tak terbendung, terutama pada segmen kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Namun, di balik angka penjualan yang fantastis, para petinggi industri justru memberikan peringatan keras: produsen Tiongkok masih memiliki “utang” besar dalam hal kredibilitas merek dan kematangan manufaktur dibandingkan pemain kawakan asal Amerika Serikat dan sekutunya.
Ketua Great Wall Motor (GWM), Wei Jianjun, secara terbuka mengakui adanya jurang kompetensi antara perusahaan domestik dengan raksasa otomotif mapan dunia. Menurutnya, pengalaman puluhan tahun yang dimiliki produsen dari AS, Jerman, dan Jepang dalam mengelola teknologi serta kualitas produk belum sepenuhnya terkejar oleh Tiongkok.
Berdasarkan data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA) tahun 2025, Tiongkok berhasil menguasai 35,6% pangsa pasar otomotif dunia. Dengan total penjualan mencapai 34,35 juta unit dari total pasar global 96,47 juta unit, Negeri Tirai Bambu ini sukses memperlebar jarak dengan AS (16,72 juta unit) dan Jepang (4,56 juta unit).
Meski status sebagai eksportir terbesar dunia telah dipertahankan selama tiga tahun berturut-turut, Wei Jianjun menekankan bahwa volume produksi bukanlah segalanya. “Skala ekspor yang besar tidak boleh membuat kita terlena. Perusahaan dari wilayah otomotif mapan masih jauh lebih unggul dalam kedalaman teknologi dan presisi manufaktur,” tuturnya.
Kualitas di Atas Perang Harga
Kritik tajam juga diarahkan pada strategi “perang harga” yang kian beringas di pasar domestik Tiongkok. Wei menilai, ketergantungan pada strategi harga murah sangat berisiko merusak citra merek dalam jangka panjang, terutama saat berhadapan dengan pasar negara maju yang lebih memprioritaskan reputasi serta layanan purna jual.
Ia mencontohkan Toyota sebagai representasi manajemen kualitas yang tangguh. Meskipun sesekali menghadapi isu penarikan kembali (recall), loyalitas konsumen tetap terjaga karena transparansi dan kecepatan penanganan masalah—sebuah aspek yang menurutnya masih harus banyak dipelajari oleh produsen Tiongkok.
Dilema Ekspansi: Harga vs Reputasi
Kinerja GWM sendiri mencatat angka positif dengan penjualan global 1,32 juta unit pada 2025, di mana varian kendaraan listrik menyumbang sekitar 30%. Angka ini menunjukkan progres signifikan, meski masih berada di bawah bayang-bayang raksasa seperti BYD yang sudah sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran internal (ICE).
Tantangan terbesar bagi otomotif Tiongkok saat ini bukan lagi soal seberapa banyak unit yang bisa dikirim ke luar negeri, melainkan mampukah mereka membangun kepercayaan konsumen global setara dengan merek-merek legendaris dunia yang telah teruji waktu.

































